Dinamika Pengalaman Menjadi Fasilitator Bimtek Daring Dalam Rangka Seleksi Duta Rumah Belajar 2018

Saya Rr. Martiningsih, dari Jawa Timur. Pada Nopember 2017 yang lalu, saya terpilih menjadui Duta Rumah Belajar Terbaik Nasional. Kali ini, diadakan penjaringan untuk memilih Duta Rumah Belajar Tahun 2018.

Langkah awal dari seleksi Duta Rumah Belajar 2018 ini adalah guru mendaftar secara daring melalui laman http://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id yang mana pada laman tersebut sudah ada panduan untuk memilih asal propinsi. Setiap peserta yang telah mendaftar dapat mempelajari modul yang ada, dan setelah hari yang ditentukan maka peserta mengikuti ujian level pertama dan akan mendapatkan sertifikat yang dapat diunduh secara daring pada laman masing-masing peserta diklat Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (PemBaTIK) level pertama.

 

Seluruh peserta yang lolos pada level pertama berhak mengikuti diklat level kedua melalui laman simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/pembatik dan dapat belajar melalui modul yang disediakan dan mengerjakan tugas-tugas untuk memantau sejauh mana kemampuan peserta diklat dalam memahami materi diklat. Modul level kedua meliputi Perancangan Pembelajaran Berbasis TIK, Pemanfaatan Fitur Bank Soal, Pemanfaatan Fitur Karya Bahasa dan Sastra, Pemanfaatan Fitur Sumber Belajar, Vlog Rumah Belajar beserta Naskah nya.

Peserta level kedua dipandu untuk mendapatkan informasi melalui chanel telegram, di sini peserta tentu saja belajar untuk memanfaatkan smartphone lebih maksimal. Peserta juga dapat berkomunikasi secara daring dengan peserta lain serta fasilitator melalui grup telegram.

Saat ini ada 10 kelompok telegram dengan anggota berkisar 300 sampai 350 peserta yang bersedia melanjutkan ke level kedua. Beberapa peserta yang lolos level pertama tidak melanjutkan ke level kedua dengan alasan kesibukan atau juga masalah keluarga.

Saya adalah fasilitator Propinsi Jawa Timur di Kelas D. Di grup telegram, beberapa ingin tahu mengapa saya bisa menjadi Duta Rumah Belajar Terbaik. Saya jawab, bahwa saya seperti guru yang lain, saat di rumah juga mengerjakan tugas – tugas sebai ibu rumah tangga. Jika ada lomba yang saya yakin saya mampu, maka saya ikuti lomba tersebut. Kalau ternyata saya menang, alhamdulillah maka saya mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Apabila saya kalah, alhamdulillah, berarti saya perlu terus belajar.

Dengan mengikuti lomba, maka sebenarnya saya memahami sejauh mana kemampuan kita, dan kita akan banyak belajar dari guru yang lain. Saya sangat menyadari bahwa setiap orang adalah hebat. Setiap orang memiliki hebat masing-masing. Ada yang hebat menyanyi (dan itu bukan saya), ada yang hebat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan banyak hebat lainnya yang sama sekali tidak sama setiap orang. Oleh karena itu melalui sebuah lomba maka kita bisa meningkatkan kualitas kita, dengn belajar dari peserta lain.

Saya sering menyampaikan kata-kata mutiara atau nasihat-nasihat sederhana yang membangun jiwa , mengutip pendapat motivator hebat. Seperti, kalau kita ingin mendapatkan hasil yang lebih baik, maka kita harus berbuat lebih. Kalau kita melakukan hal yang biasa-biasa saja, maka hasilnya juga akan biasa-biasa saja.

Di akhir level kedua, ditentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus. Tentu ini menimbulkan dilema bagi yang tidak lulus.

Yakinlah…Jika Allah mengabulkan keinginan kita…Sesungguhnya Allah menguji rasa syukuri kita…Jika Allah menunda terkabulnya keinginan kita….Sesungguhnya Allah menguji rasa sabar kita…Jika Allah tidak mengabulkan keinginan kita…Sesungguhnya…Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Tidak lulus pada level 2 bukan Akhir segalanya..matahari masih tetap bersinar menerangi hari penuh makna …Dan Allah masih melimpahkan rahmat kepada kita untuk kesuksesan gemilang yg pasti indah pada saatnya. .

Semoga apapun keputusan…lulus atau tidak lulus…Diterima dengan lapang dada.

 

Rr. Martiningsih, S.Pd, M.Pd

Duta Rumah Belajar 2017

Provinsi Jawa Timur